Sabtu, 25 April 2009

23.54

REMAJA GAUL ISLAM



Funky
, adalah istilah 'wajib' bagi remaja yang mengaku gila
gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang terdengar
akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja
nggak ngomong funky atawa cool, dijamin bisa dicap sebagai
remaja kuper bin norak. Tak heran bila kemudian banyak
teman-teman remaja buru-buru tampil funky hanya untuk disebut
gaulFunky, adalah istilah 'wajib' bagi remaja yang mengaku gila
gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang terdengar
akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja
nggak ngomong funky atawa cool, dijamin bisa dicap sebagai
remaja kuper bin norak. Tak heran bila kemudian banyak
teman-teman remaja buru-buru tampil funky hanya untuk disebut
gaul.

Mulai soal dandanan sampai soal musik. Gaya rambut yang dicat
warna-warni kayak pelangi, atau dipermak mirip durian, atawa
gaya rambut yang 'disulap' seperti topi Romawi. Itu baru gaya
rambut, belum lagi pakaian. Jaket hitam yang ketat dari kulit
buaya (semoga yang pake' bukan buaya darat, heee .), celana jins
super sempit kayak penyanyi rock Kelvits yang bangga disebut
dirinya funky , atau celana cutbray yang bikin penampilan seksi
mirip Elvis kesemuanya identitas gaya gaul remaja sekarang.
Belum lagi aksesoris lainnya. Kuping ditindik, bahkan hidung,
pun ada yang nekat ditindik pula, hiasan rantai yang gede-gede
juga ikut nimbrung.

Nggak hanya itu saudara-saudara, tatto juga sering menghiasi
tubuh anak funky. Macam-macam model tattonya, dari yang 'lucu'
sampai yang 'serem'. Dari gambar pemandangan (idih, emangnya
ada?) sampai gambar tengkorak, tapi tengkorak ikan
(hi..hi..hi..). Itu sih bukan serem, tapi lucu, menggelikan
lagi. Nah, gaya remaja model begini nih, kamu bisa temui di mal
atawa tempat ngeceng yang memang dijejali remaja. Khusus di
daerah lahirnya bonek ini bisa kamu temui di daerah Basuki
Rahmat.

Di sana, berbagai gaya funky bisa kamu liat. Dari mulai yang
modis sampai yang keranjingan abis. Tapi memang bukan soal enak
dipandang atau tidak, yang jelas, gaya funky itu memang warisan
budaya Barat yang berbahaya dan rusak. Untuk itu kamu kudu tahu,
bagaimana sih sejarah lahirnya budaya funky yang sebenarnya
kontradiksi dengan Islam itu. Nah simak dech, paparan di bawah
ini.

Funky, Apaan Tuh?

Dalam dunia gaya, banyak terjadi pembalikan makna. Kata funky
arti sebenarnya adalah busuk, kemudian mengalami pergeseran
makna menjadi makna seolah "positif". Mendengar istilah fungky,
terlintas kita akan salah satu jenis irama musik. Ya, seperti
irama yang dibawakan James Brown atau kelompok Sly & The Family
Stone di tahun 1965 - 1970-an. Kamu pasti nggak terlalu kenal
ama arti satu itu?, iya soalnya mereka ada di jaman bokap and
nyokap kita lagi remaja.

Nah, menyimak sejarah dunia entartaiment, gaya busana dan musik
khususnya, memang punya kaitan erat yang saling mempengaruhi,
termasuk aspek-aspek ipoleksosbud yang melatarbelakanginya
(taela, kayak pelajaran PPKn, ya). Kita lihat misalnya
'ideologi' anarchy yang dianut salah satu aliran gaya punk yang
terkenal melalui sosok Johnny Rotten dari Sex Pistol. Atau Ente
juga bisa lihat 'ideologi' kaum gay melalui kelompok aliran gaya
busana Glam dengan irama glam rock melalui sosok David Bowie dan
Gary Gliter. Atau 'ideologi' lingkungan dan perdamaian yang
dipropagandakan kelompok Hippy melalui The Grateful Dead, CSN&Y
(Crosby, Stills, Nash, Young), Frank Zappa, dan Joan Baez dengan
irama musik psychedelic maupun Folk.

Well, itu fakta masa lalu, bagi generasi sekarang, mungkin lebih
mengenal gaya rambut dreadlock (gimbal) yang dipopulerkan aliran
gaya rastafarian melalui tokoh Bob Marley dengan irama reggae.
Atau gaya B-boy dan Flygirls serta Gangsta melalui irama musik
Rap, kalau di Indonesia kamu bisa dapetin di kelompoknya HJ
(harapan jaya)

Achmad Haldani D, staf pengajar Program Studi Kria Tekstil
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung
terhadap kasus tersebut, menyebutnya sebagai suatu kenyataan
sejarah, gaya-gaya busana yang muncul di Barat amat kental
dengan sisi perjuangan subkultur anak muda terhadap berbagai
masalah yang penuh gejolak. Free sex, drugs, eS-eS (bukan eS
krim, lho), rasisme, hujatan terhadap orangtua, memuja setan,
tripping dan lain-lain, adalah sebagai bukti empirik ekspresi
'ideologi' yang terkadang bagi sekelompok orang sulit diterima
akal sehat, sehingga banyak di antaranya dikritik, disisihkan,
atau bahkan dikucilkan masyarakat.

'Ideologi' yang mereka anut pun amat beragam, dan sarat dengan
cara pandang mereka terhadap suatu nilai dan harapan. Harapan
dengan tidak meninggalkan ide masa lalu, masa kini, maupun masa
mendatang. Untuk mengkomunikasikan sekaligus mengangkat
eksistensi dan prestis, setiap gerakan butuh akan representasi,
simbol, atau media visualisasi lain yang otentik dan khas,
bahkan jika perlu ekstrim dan radikal (wah-wah-wah.. serem juga
nich). Karena itu, nggak salah bila kita amat mengenal beberapa
media dan bahasa simbol mereka seperti dalam gaya berpakaian,
gaya berdandan (tatto, cat rambut, rias wajah, tindik, peniti,
rantai, logo nazi, tengkorak dan lain-lain), juga gaya
berbicara, gaya berjalan, gaya menari, peristilahan, sastra
(sajak, novel, lirik lagu), gaya hidup, merek pakaian, merek
motor dan sebagainya. Wah, ternyata banyak juga ragamnya, ya?
Nah, mereka inilah yang disebut oleh dunia fashion sebagai
fenomena gaya jalanan (street style).

Masih menurut Haldani D, funky merupakan kata sifat dari kata
dasar funk yang berarti (bau) busuk atau stinky. Nah lho,
negerinya grandong ini ada grup musik dengan pake dua nama tadi,
tebak sendiri aja lah. Seperti halnya pemutar-balikan makna bad
(baca: jelek, buruk atas sesuatu hal) menjadi cool (baca; keren
atas sesuatu hal tadi) yang muncul di era gaya ini, istilah funk
juga mengalami pergeseran makna (seolah bagi kalangan mereka)
positif, yaitu semerbak wangi. Mengapa? Di tengah suasana yang
serba tidak menyenangkan (tertekan, miskin, muram, kumuh, yang
berhubungan dengan makna harfiah funk) mereka justru
mengekspresikannya dalam bentuk atau selera yang justru
berlawanan, seperti memainkan, menari,dan mendengarkan musik
yang berirama menyenangkan, gembira, beat yang tegas, serta
erotik. Ditambah cara berpakaian yang juga menyenangkan seperti
berkesan seksi dan gemerlap. Wuah, 'syerem' juga ya?

Brur, ekspresi ini sungguh dinilai amat berlawanan dengan
ekspresi kelompok menengah kulit putih yang pada saat bersamaan
(pada masa itu) justru sedang keranjingan gaya hidup Hippy yang
cenderung anti-materialistis seperti terlihat dari gaya
berpakaian dan berdandan mirip gembel atau pengembara miskin.
Sekarang, gaya model begini, kamu bisa temukan juga dengan mudah
di negeri ini. Karena motif 'ideologinya' berbeda, yaitu ingin
keluar dari himpitan atau kesan kemiskinan perkampungan ghetto,
kelompok funk ini jelas ingin tampil dan terlihat cool dengan
bergaya serba gemerlap dan berkesan mahal. Jadi, di antara
musisi jazz dan orang negro Amerika, istilah funk menjadi suatu
yang bercitra positif dan kental dengan aroma kesenangan
seksual.

Secara lebih luas di antara tahun 1950 sampai 1970-an gaya funk
berhubungan dengan kekuatan atau daya erotik dan gairah seksual.
Sementara kata sifat funky diterapkan pada suatu yang berkaitan
dengan black music hingga ke soul food. Sedangkan di bidang gaya
berpakaian dan cara berdandan, penerapan istilah fungky merujuk
pada suatu gaya yang lahir di awal tahun 1970-an yang disebut
Pimp Look (pimp =germo/mucikari) yang muncul di sekitar
perkampungan kumuh orang kulit hitam (ghetto) Amerika.

Gaya ini kira-kira serupa dengan gaya yang ditampilkan para
germo dan pekerja jalanan lainnya dalam 'memamerkan' angan-angan
kesuksesan dan kemakmuran mereka. Para ahli juga mensinyalir
adanya kaitan logis gaya funky dengan gaya Zooties di era
1940-an yang juga berawal dari kalangan yang secara materi serba
kekurangan. Gaya funky dapat kita 'kenang' antara lain
peninggalan karakternya yang khas seperti gaya rambut AFRO
(kribo), kacamata dragon fly (bulat dan besar), bahan kulit yang
lembut dan tebal (suede), topi model pimpmobile atau voluminous
hunting cap, celana cutbray dan sepatu dengan model hak tinggi
(sekitar 12 cm).

Gaya funky juga bisa ditemukan dalam film laga Shaft yang
dibintangi Richard Roundtree di tahun 1971 (Pasti kamu masih
dalam kandungan bundamu), malah muncul gaya funky yang
dieksploitasi, yang diistilahkan dengan kata sindiran,
blaxplotation. Wah, ternyata memang gaya funky itu kental dengan
nuansa peradaban Barat, ya? Iya, dong, soalnya Islam nggak
mengajarkan budaya model begitu.