Islami Vs Funky
00.11
Islami Vs Funky Oke sobat, setelah udah pada tahu latar belakang gaya funky,
tentu saja sebagai seorang muslim kita wajib tahu pula pandangan
Islam seputar masalah tersebut. Bukan apa-apa, bahwa sebagai
seorang muslim wajib terikat dengan aturan-aturan Islam. Nggak
boleh sedikit pun perbuatan yang kita lakukan diluar aturan
Islam. Termasuk dalam soal gaya hidup ini. Tingkah laku kita
dalam berpakaian, bergaul, dan berbuat harus selalu disandarkan
pada aturan Islam. Mutlak, lho. Nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Seperti sekarang teman-teman remaja lagi kegila-gilaan niru gaya
funky, maka itu harus kita 'tanyakan' kepada Islam, boleh apa
nggak berdandan model gitu?.
Nah, berkaitan dengan gaya funky ini, Islam punya pandangan,
Brur, bahwa budaya tersebut sangat bertentangan dengan aturan
dan hukum-hukum Islam. Gimana nggak, gaya funky yang kerap
diekspresikan lewat dandanan, tingkah laku, dan gaya hidup itu
"nothing" dalam Islam. Tentu itu bila dilihat dari lahirnya
budaya bejat tersebut. Dalam soal berpakaian, Islam sudah
mengatur, bahwa pakaian yang dikenakan tersebut wajib menutup
aurat. Firman Allah SWT yang artinya : "Hai anak Adam, Kami
telah menurunkan kepada kamu pakaian untuk menutup aurat kamu
dan pakaian indah untuk perhiasan." (al-A'raaf: 26).
Tapi bagaimana dengan anak funky?, rambutnya aja kayak sarang
burung walet begitu. Dicat warna-warni, dipermak seperti durian,
atau malah yang lebih serem lagi rambutnya 'disulap' seperti
topi tentara Romawi, tahu kan? Yes, potongannya rada mirip
rambut ala si BA di film The A Team, Lebih jelasnya, bila kamu
pernah lihat film Gladiator, kayaknya bisa kebayang deh
bagaimana 'rupa' topi Romawi itu.
Belum lagi pakaiannya yang amburadul banget, malah dalam keadaan
tertentu ditemukan pula gaya pakaian 'kaum' funky yang sulit
membedakan mana cowok dan mana cewek. Huhui ih, gawat juga ya?
Bingung juga memang, kalo ada anak cowok yang mempermak wajahnya
dengan kosmetik dan lebih mirip anak cewek, lalu aksesoris yang
biasa dikenakan anak cewek seperti anting, eh, dipakai pula oleh
anak cowok, udah gitu rambutnya panjang lagi, kan berabe, iya
nggak? Salah-salah malah ketuker manggil. Padahal, gaya funky
model begini bisa menjerumuskan kepada larangan menyerupai lawan
jenis. Laki-laki terlarang berpenampilan menyerupai anak cewek,
begitupun sebaliknya.
Imam Bukhori meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata:
"Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak perempuan dan
perempuan yang berlagak laki-laki." Kemudian Abu Dawud
meriwayatkan, bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: "Rasulullah saw.
melaknat laki-laki yang meniru (dengan) pakaian perempuan dan
perempuan yang meniru (dengan) pakaian laki-laki." (Riadhus
Shalihin, Jilid I, hlm. 490).
Haruskah, itu dibiarkan?
Yes, pilihan terbaik memang kita harus menjegal atau mencegah
jangan sampai budaya funky itu mengakar dan menjasad dalam gaya
hidup kita. Karena nggak mustahil lambat laun bakal 'mempermak'
kita menjadi berselara Barat dalam bertingkah laku model Barat.
Kalo sampai kejadian, wuah, bahaya besar, Bung!
Ironisnya, kondisi seperti ini memang diperburuk dengan cara
pandang kita yang salah dalam menyikapi trend. Bahwa sesuatu
yang dianggap baru, adalah sebuah trend yang harus kita
dijelajahi. Kita menganggap bahwa kita harus mencobanya, bahkan
bila perlu dan memungkinkan, kita akan menganggap trend tersebut
wajib diamalkan. Itu cara pandang yang salah. Seharusnya, bila
itu menyangkut urusan gaya hidup peradaban tertentu, kita harus
hati-hati dan bijak dalam bersikap. Bahkan wajib menahan diri
untuk tidak latah. Karena siapa tahu memang trend itu justru
menjerumuskan kita kepada kesalahan dan dosa. Ya, kayak kasus
funky itu. Bisa jadi 80 % pelakunya adalah remaja Islam. Apakah
itu akan tetap kita biarkan? Tentu nggak dong sayang. Kita harus
mencegahnya agar tidak menyebar dan meracuni pemikiran dan jiwa
remaja. Karena tingkah laku, sangat berhubungan erat dengan
pemahaman. Bila salah memahami, nggak mungkin tingkah lakunya
benar. Catet, ya!
Yang lebih memprihatinkan, saat ini justru kebanyakan kita diam
melihat kemunkaran yang ada. Lebih gokil lagi, sebagian dari
teman-teman remaja malah larut dalam trend yang sesat dan merasa
enjoy menikmatinya. Wah, benar-benar rusak dong kalo begitu.
Upaya pencegahannya tentu harus menyeluruh. Memang yang pertama
kali harus disamakan adalah persepsi berpikirnya. Yang
menyatakan bahwa trend tersebut memang rusak dan berbahaya. Bila
ini sudah sepakat, maka akan mudah melangkah ke 'pintu'
penyelesaian berikutnya. Tapi bila masih nggak kompak dalam
menilai trend tersebut, rasanya memang sulit untuk bisa dicegah.
Harus kompak, baik individu, masyarakat dan juga penguasa. Dalam
sistem Islam, trend funky ini nggak bakalan menjamur seperti
sekarang ini. Jangankan muncul dan berkembang, baru 'tumbuh' pun
segera akan dipangkas. Itulah 'gaya' Islam dalam menumpas
kemaksiatan. Pokoknya, nggak tangung-tanggung deh. Tentu sikap
Islam seperti ini hanya akan kita dapatkan bila Islam diterapkan
sebagai akidah dan syariat dalam sistem pemerintahan yang
berlandaskan Islam. Bukan yang lain. Jadi, nggak kelas deh
tampil funky.
0 komentar:
Posting Komentar